Pendidikan Luar Sekolah (PLS) menjadi sebuah momok tatkala seseorang atau orang lain menanyakan apa itu PLS… Yang terjadi adalah keraguan, ketakutan salah menjawab, bimbang menentukan, cemas kalau di balik tanya… Itu akan terus menjadi sumber kehancuran dan menjadi salah satu penggugur satu buah sistem keilmuan dalam bidang pendidikan.
Permasalahan ini kian terus menjadi membesar kala kita sebagai agen perubahan dan penggerak PLS masih malu2 menjelaskan, alangkah baiknya kita menjawab sesuai apa yang kita sendiri ketahui dan dalami keilmuan PLS tersebut.. Itu akan semakin meyakinkan masyarakat apabila kita berkeyakinan teguh. Pada prinsipnya pendidikan luar sekolah membantu dan memberdayakan masyarakat dengan sistem di luar persekolahan dengan pemaknaan yang luas, tinggal kita memaknai keterbatasan-keterbatasan dari diri kita sebagai agent of change..

image

Mengapa pelatihan?

Menurut Ary Ginanjar A, dalam buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ menyebutkan bahwa Globalisasi adalah bukti nyata akan kebutuhan manusaia untuk berinteraksi dan bersinergi dengan kelompok lain di luar kelompoknya. Tidak diragukan bahwa pikiran kelompok dan sinergi akan menghasilkan sebuah pemikiran yang jauh lebih cerdas dan lebih sempurna. Peningkatan kecepatan informasi, ilmu pengetahuan, juga jaringan kerja, membuat kita semakin bergantung pada pemikiran kelompok-kelompok lain dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan pelatihan ketangguhan social (social strength) dalam menghadapi perubahan yang ada.

Hal senada juga disampaikan dalam buku Prof Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikanyang mengatakan bahwa perubahan lingkungan, tentu saja tidak dapat diatasi dengan cara lama, termasuk pengetahuan, teknologi, dan manajeman, serta kepemimpinan. Menghadapi perubahan dan masalah baru tersebut maka setiap organisasi yang ingin bertahan hidup dan ingin berkembang, harus dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan cara-cara atau pendekatan baru.

Dalam buku Ary Ginanjar A, juga ditemukan hasil dari sebuah penelitian yang dilakukan Robert Kelley, dari Carnagie Mellon University di Carnagie Mellon University yang menunjukkan bahwa presentase kebutuhan pengetahuan dalam mengerjakan tugas dari dalam benak sendiri adalah sekitar 75% ditahun 1986 dan terjadi penurunan sekitar 15-20 % pada tahun 1997. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa keberhasilan seorang pekerja/karyawan bukan berdasarkan pengetahuannya saja, tetapi ada aspek lain di luar itu yang lebih penting yaitu EQ dan SQ.

Oleh sebab itu pelatihan merupakan salah satu jawaban dalam menjawab tantangan perubahan zaman tersebut. Teori dan praktek yang selama ini diterima oleh pekerja/ anggota organisasi sebelum ia menjalani pekerjaannya dimasa sekarang bisa jadi sudah usang. Ataupun praktik pekerjaan atau kinerja yang ia lakukan sekarang ini bisa jadi cuma pengulangan dari pola rutinitas yang ia lakukan selama ini. Bangku pendidikan formal yang telah dienyam oleh para pekerja sebelum ia memasuki real world bukan merupakan garansi, bahwa ia akan menjadi kompeten sesuai bidangnya. Seperti yang dikemukakan bapak Ary G.A, kebiasaan menghafal teori selama ini sering dilakukan dengan hanya menggunakan kepala bukan dengan hati. Akibatnya hanya ingat dalam kurun waktu tertentu. Tanpa dipraktikkan, teori terbuang percuma. Setelah diingatkan kembali barulah menyesal.

Lantas seperti apakah pelatihan yang seharusnya ada?

Dalam buku Meningkatkan produktivitas karyawan, Seri Manajemen No.95: yang disunting oleh Bambang Kussriyanto, Keberhasilan pelatihan tergantung pada 3 hal:

  • Jalinan rencana keseluruhan yang serasi
  • Teknik khusus yang digunakan
  • Jangka waktu penyelenggaraan yang tepat

Dalam buku itu juga dikemukakan bahwa idealnya pelatihan dilaksanakan begitu penyelia baru diangkat, hal ini merujuk pada asumsi bahwa selagi mereka masih penuh semangat dan gembira serta sebelum mereka dijangkiti kekhawatiran bahwa mereka tidak mampu melakukan tugas, sehingga lambat laun akan membentuk rasa rendah diri. Akan tetapi kenyataannya seringkali penyelia bekerja terlebih dahulu beberapa waktu, dan baru diberi pelatihan manakala kesulitan dalam bidang tertentu.

Selain itu pelatihan harus dimaksudkan untuk membina bakat-bakat baik disamping untuk mengobati kekurangan. Baik segi-segi yang merupakan kekuatan maupun segi-segi yang merupakan kelemahan harus diperhatikan dan diolah secara seimbang dalam program pelatihan yang diselenggarakan.

Pelatihan kognitif vs pelatihan attitude

Semenjak para pemimpin perusahaan menyadari pentingnya sebuah mentalitas dan attitude, mereka kemudian mengirimkan pada manajernya serta staffnya untuk mengikuti training dengan harapan agar terjadi suatu perubahan mental pada karyawannya. Meski terkadang hasilnya memang terlihat cuma beberapa saat. Pemikiran tentang pealtihan yang berdasarkan pada nilai kognitif semata telah beranjak menjadi pelatihan mental.

Orientasi bisnis seharusnya menggunakan pondasi pada optimalisasi spiritual capital bukan material capital. Yang dibenarkan oleh ahli psikologi, Victor Frankl, yang mengetakan bahwa mereka yang mampu mamaknai setiap aktivitasnya, memiliki kekuatan unutk bertahan hidup di dunia fana ini. Lebih lanjut Kouzes, dan Postner (Leadership Challenge, 2002) mengatakan bahwa sumber komitmen yang tinggi bukanlah pada kokohnyacore values perusahaan, tetapi lebih kepada personel values (nilai-nilai pribadi karyawan) yang kokoh. Karena nilai pribadi itu yang tercermin dalam praktik bekerja dan komitmen bekerja bukan nilai perusahaan. Nilai individu yang dianut memgang kendali utama. (Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ)

Oleh sebab itu tidaklah pelatihan karyawan sebuah perusahaan cukup dengan pelatihan kognitif saja, tetapi juga aspek SQ dan EQ-nya yang mengacu pada perubahan mental dan attitude karyawan..

Pelatihan yang berkontinu (terus-menerus)

Peter Drucker menunjukkan bahwa justru dengan pelatihan yang terus-meneruslah orang Jepang membuat pekerja makin besar rasa tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya dan alat-alat yang digunakan. Pelatihan membuat pekerja mengerti akan prestasinya, prestasi bawahannya, prestasi teman sejawatnya, prestasi perusahaannya, dan berusaha untuk meningkatkan prestasi2 itu. Pelatihan menciptakan komunitas kerja dan pekerja. (Kussriyanto, Bambang. Seri Manajemen No.95: Meningkatkan produktivitas karyawan)

Terlalu sering dampak nyata sebuah pelatihan, apapun jenisnya adalah mereka hanya mendapat energi baru. Manfaat training memang sangat dirasakan seperti: memahami arti penting berpikir positif, proaktif, orientasi pada tujuan, empati, komitmen, atau sinergi. Akan tetapi setelah 3 bulan, biasanya peserta sudah lupa untuk mempraktikkan konsep pada buku tersebut. Yang tersisa tinggallah slogan-slogan seperti: you can if you think you can, think globally act locally, there is a way there is a will, dst, Sesudah itu para peserta pelatihan kembali pada kebiasaan lama mereka sebelum pelatihan. (Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ),

Karenanya kontinuitas dalam pelatihan sangat menentukan hasil akhir peningkatan performance para pekerja, sebab selayakanya sifat dasar manusia pada umumnya yaitu cepat lupa.

Dampak pelatihan

Dampak yang paling umum dari sebuah sebuah pelatihan adalah meningkatnya rasa percaya diri peserta, setidaknya untuk sementara waktu. (Ginanjar, Ary. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, mengutip dari Richard Boyatzis, Consequences of Rejuvenation as Competency-Based Human Resources and Organisation Development, Research in Organizational Change and Development IX, 1993)

Sebuah training yang diikuti pesertanya dengan dilandasi kesadaran dirinya yang kuat, yang sesuai dengan suara hatinya maka ia akan menjadi jawaban dari metode pembentukan karakter (mental building). Selain itu terus berkelanjutan dan bisa dilaksanakan sepanjang waktu, sehingga meghasilkan peningkatan ESQ secara berkesinambungan dan berkelanjutan seumur hidup. Selain itu hendaknya sebuah training mengahsilkaninternalisasi karakter, yang tentu saja harus dilakukan secara kontinu. Bila tidak secara kontinu, manfaat training yang begitu hebat terasa singkat

Berikut ini Ilmu pembentukan mental dan attitude (EQ) yang dikemukakan Ary Ginanjar Agustian bahwasanya:

Pemahaman à pelatihanà kebiasaanàkarakteràkeberhasilan

Beberapa contoh pelatihan ESQ*

1. Pelatihan penjernihan emosi melalui wudhu,

Membasuh wajah àpenjernihan dan penyucian hati serta pikiran

Membasuh tangan à penyucian segala kegiatan

Membasuh kepala à pikiran yang suci

Membasuh kaki à langkah lurus nan bersih

2. Doa iftitah

Secara berulang-ulang menyatakan tentang kesucian Allah. Hal ini akan mendoktrin jiwa seseorang untuk selalu mengikuti teladannya yaitu Allah Yang Maha Suci. Hasil akhir yang diharapkan adalah sebuah fitrah atau hati bersih yang sangat cerdas.

3. Rukuk dan sujud

Rukuk—pujian dan keinginan

Memuji artinya menjunjung, dan orang yang menjunjung akan menempatkan sesuatu hal pada tempat yang tinggi.Menghasilkan pemikiran yang selalu menjunjung tinggi kesucianatau kejernihan hati, pikiran, dan tindakan yang bebas dari berbagai belenggu.Selanjutnya ia kan menyakini bahwa kejernihan hati dan tindakan akan membimbing seseorang pada keagungan

* (sumber: buku Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ : emotional spiritual quotient berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam)

Kesimpulan

Pelatihan dalam sebuah organisasi/perusahaan sangatlah penting sejalan dengan budaya organisasi, pembentukan mental karyawan dan peningkatan kinerja sesuai dengan perkembangan zaman. Pelatihan yang diselenggarakan hendaknya tidak menekankan aspek kognitif saja, tetapi juga aspek attitude yang tercermin dalam penerapan EQ dan SQ.

Selain itu pelatihan yang baik hendaknya memperhatikan kontinuitas dari pelatihan tersebut, sesuai dengan filosofi long life education yang berpijak pada pendidikan orang dewasa, sehingga manfaat dari pelatihan tersebut tidak hanya dirasakan dalam beberapa waktu saja kemudian hilang seketika, tetapi tetap tertanam dalam budaya organisasi. Jangan sampai tagline salah satu iklan “ sudah lupa tuh..” menghiasai karyawan-karyawan yang rajin ikut pelatihan.

Daftar Pustaka

Miarso, Yusufhadi.Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.

Kussriyanto, Bambang. Seri Manajemen No.95: Meningkatkan produktivitas karyawan. LPPM bekerjasma dengan PT Pustaka Binaman Pressindo.

Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ : emotional spiritual quotient berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam. Penerbit Arga.

Mentari pagi membawa suasana ceria
Membuat manusia, hewan dan tumbuhan segar dan sehat fisiknya
Alam semesta adalah media belajar manusia
Jadikan anak-anak kita bersahabat dengan alam lingkungannya

Saat ini berkembang sekolah-sekolah alam. Saya pribadi sangat tertarik dengan konsep belajar di alam ini. Pertama: karena memang mengindera alam secara langsung adalah bentuk penginderaan terhadap fakta. Proses ini akan memudahkan dalam memahami sesuatu. Pendengaran anak secara langsung akan mendengar alam. Mereka akan sensitif mendengarkan suara-suara alam yang sangat kaya akan suara-suara makhluk Allah. Demikian juga dengan penglihatan, banyak sekali warna-warna yang ada di alam. Pergantian siang malam, pergantian warna air, warna langit, warna daun, warna batuan dll. Tidak ada yang bisa mengalahkan kelas belajar langsung di alam. Dengan belajar langsung di alam, anak akan semakin mudah untuk mengenal Sang Pencipta Alam Semesta ini dengan seluruh isinya yaitu Allah SWT.

Apakah Islam sendiri mengajarkan kita untuk belajar di tengah alam? Ya. Banyak ayat-ayat dalam al Qur’an yang memerintahkan kita untuk memperhatikan alam ciptaan Allah SWT. Ayat-ayat tentang bulan, bintang, gunung, planet, sungai, hewan, burung dan tumbuh-tumbuhan ini mengajak manusia berpikir tentang alam

Wassyamsi tajrii limustaqarri laHa: dan matahari berjalan (berputar pada lingkaran yang ditentukan) sampai ia berakhir pada batas tertentu. (QS yasin 38)

Wa fii anfusikum afalaa tubshiruun: pada dirimu sendiri apakah kamu tidak memperhatikan? (QS adz Dzariyaat: 21)

Lillaahi maa fissamaawaati wal ardh wakhtilaa fillaili wan nahaari la aayaatii li ulil albaab. (ali Imran)

Bagaimana kira-kira bentuk cara belajar di alam? Harus difahami dulu tujuan dan targetnya. Tujuannya adalah membuat anak menjadi ulil albab. Artinya anak memahami bahwa alam semesta ini dan isinya adalah ciptaan Allah SWT. Sehingga akan semakin mendekatkan anak dengan Allah SWT Sang Penciptanya. Anak akan memahami makna Laa ilaaha illa Allah. Kemudian tentang target, adalah faham tentang fenomena alam, sesuai materi yang diberikan. Ketika kita memberikan pelajaran tentang pergantian siang dan malam, fenomena alam dan benda-benda yang terdapat di dalamnya baik lautan, gunung, lembah dll, maka anak mengerti dan memahami tentang konsep tersebut. Misalnya konsep siang dan malam. Tata surya, rotasi bumi, bulan sebagai satelit bumi, Matahari sebagai pusat tatasurya yang memberikan energi cahaya matahari bagi tatasurya ini. Dan tatasurya tidah hanya matahari, masih banyak lagi galaksi. Ini akan menggambarkan tentang keteraturan sistem tatasurya. Selanjutnya fenomena alam dan tanda-tandanya bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk memahami pergantian siang malam dengan perlaku makhluk, pergantian posisi bumi dan bulan yang berpengaruh pada musim. Bahkan hingga penentuan arah ketika dalam perjalanan. Agar kita bisa mengetahui kemana arah kiblat dan juga perjalanan agar tidak tersesat. Ini target memahami fenomena alam. Sementara tujuannya adalah semakin bertambah derajad sebagai hamba Allah yang bertaqwa. Maka ketika sampai pada target faham, kemudian anak mengucap subhanallah, maka kita melihat indikasi tujuan keimanan terwujud. Ucapan subhanallah bukan hanya sekedar kata, tetapi dijiwai oleh kesadaran.

Apakah berarti setiap materi harus selalu dikaitkan dengan ayat-ayat dalam al Qur’an? Untuk target pelajaran prabaligh memang demikian. Khususnya karena kurikulum dasar adalah tahfizh. Untuk menancapkan al Qur’an dalam benak dan jiwa anak, maka setiap pelajaran harus dikaitkan. Ini pelajaran sains, teknologi, dan geografi.. Khususnya terkait dengan alam. Untuk matematika memang sebagai ilmu alat saja. Sebagai contoh, ketika anak belajar di alam ini, untuk mengantarkan pada tujuan, maka dalam QS al mukminuun: 89-91 ada gambaran tentang bagaimana cara menanamkan keyakinan tentang Allah SWT. (… baca suratnya)

Jadi, memang sangat mudah bila pelajaran dilakukan di alam. Sekolah alam juga bisa disesuaikan dengan tempat tinggal. Anak-anak yang tinggal di pantai dan yang di gunung masing-masing punya kelebihan. Persoalannya memang pada anak-anak yang tinggal di perkotaan. Mereka harus dibawa ke gung atau pantai untuk bisa paham. Diakui ini juga perlu biaya. Sehingga sekolah alam ini sangat cocok sekali dengan yang di pedesaan gunung dan pantai atau hutan. Untuk itu sebenarnya tidak ada kesulitan biaya pendidikan bila kita memahami konsep belajar tentang alam. Karena saya melihat justru seolah-olah mereka yang tinggal di pedalaman minim pendidikan, padahal potensinya justru luar biasa. Mereka dekat dengan kekayaan alam yang luar biasa. Kalau sekiranya pemerintah memfasilitasi pendidikan model ini, contoh: bagi anak-anak suku bajo di perairan wakatobi, ini sangat tepat dengan model sekolah alam. Saya pikir selama ini juga sudah menerapkan. Dengan konsep inis ebenarnya justru manusia sendiri yang akan menjaga kelestarian alam. Orang-orang yang dekat dengan alam, mencintai kehidupan alam, mereka memiliki tanggung jawab yang besar untuk melestarikan alam. Akhir-akhir ini cara berfikir masyarakat kita dirusak oleh pemikiran dan sistem kapitalisme. Hukum proteksi kekayaan alam versi internasional seolah-olah melindungi alam, tetapi mengapa justru mudah dimanfaatkan oleh para kapitalis. Eksploitasi dan pengrusakan alam selama ini karena adanya perusahaan-perusahaan asing yang masuk ke negeri ini. Saya merasa yakin bahwa peladang asli indonesia yang hidup berpindah dari pinggir hutan ke hutan lain, sangat selektif menebang hutan. Mereka hanya menebangi kayu-kayu kecil saja. Tetapi kayu-kayu besar dengan diameter satu meter lebih yang menebangi kan perusahaan kayu besar. Demikian juga tambang-tambang emas dan minyak yang ada di pedalaman. Merekalah yang merusak alam indonesia. Sebenarnya konsep sekolah alam juga akan menjaga kelestarian alam Indonesia. Jadi sangat cocok untuk negeri ini.

JAKARTA–Jika dulu memukul dianggap sebagai bagian dari disiplin. Penelitian terkini membuktikan, perlakuan kasar orang tua terhadap anak seperti memukul atau menampar saat fase tumbuh kembang, terutama pada anak berusia tiga tahun, akan memicu prilaku agresif. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam journal Pediatrics menunjukkan, ketika anak berusia tiga tahun dan mendapat perlakuan kasar, kemungkinan besar si kecil berprilaku agresif saat ia berusia lima tahun. Salah seorang peneliti dari Tulane University’s School of Public Health and Tropical Medicine in New Orleans, Asisten professor ilmu kesehatan masyarakat, Catherin Taylor mengatakan anak membutuhkan panduan dan disiplin. Namun, orang tua harus bertindak positif dan menghindari kekerasan saat mengajarkan anak berdisplin. “Hukuman fisik, seperti menampar atau memukul seharusnya dihindarkan, karena bakal berdampak panjang,” katanya seperti dikutip dari Healthday, baru-baru ini. Secara terpisah, Psikiatri dari Texas A&M Health Science Center Round Rock campus, Kathryn J Kotrla berpendapat hasil riset menunjukan perlunya peran orang tua untuk memutuskan rantai kriminalitas di masyarakat. Ia menilai, mengurangi penggunaan kekerasan ketika mendidik anak tingkat kekerasan dalam berbagai bentuk di masyarakat dapat ditanggulangi. Sebelumnya, Taylor dan kolega melibatkan lebih dari 2.500 ibu yang ditanyakan tentang sejauh mana mereka menerapkan hukuman fisk pada anak-anak mereka ketika berusia 3 tahun. Mereka juga ditanyakan tentang tingkat agresifitas anak ketika berusia 3 tahun. Peneliti kemudian melihat latar belakang dari ibu yang terfokus pada kemungkinan ibu mengalami depresi saat melahirkan, konsumsi alkohol dan kekerasan yang mungkin terjadi pada keluarga si ibu. Hasilnya, 50% orang tua tidak menerapkan hukuman kepada anak-anak mereka sebelum riset berlangsung. Sekitar 27.9% dari ibu, satu atau dua kali menerapkan hukuman fisik. Sedangkan sisanya 26.5 % dari ibu menerapkan hukuman fisik lebih dari dua kali dalam bulan yang sama. Hasil riset juga mencatat, anak-anak yang berusia 3 tahun yang mengalami hukuman fisik dua kali atau lebih sebelum bulan riset berlangsung mengalami peningkatan tingkat agresifitas saat si kecil berusia 5 tahun. Sayangnya, peneliti mengakui, mereka tidak bisa membuktikan sebab dan akibat dari hubungan antara ibu dan anak. Akan tetapi, peneliti meyakini pertanyaan itu dapat terjawab dengan riset lanjutan dikemudian hari. “Kami paham betul, anak belajar dari apa yang dilakukan orang tuanya. Jadi, jika si kecil Anda pukul dengan alasan tertentu, artinya Anda mengajarkan mereka menjadi agresif,” tegas Taylor. Ia menambahkan, apabila hukuman fisik dijalankan secara berlebihan dengan alasan tertentu pula, maka tingginya tingkat stress si kecil akan berdampak pada perkembangan otak, emosional dan prilaku si kecil. Strategi Efektif Pendapat senada juga disampaikan Psikolog dari National Center for School Crisis and Bereavement, Robin Gurwitch. Menurutnya, hasil riset menegaskan hasil riset sebelumnya dimana hukuman fisik pada usia dini berkaitan erat dengan tingkat agresifitas anak dikemudian hari. “Bagaimana kita membantu orang tua untuk memberikan strategi efektif ketimbang hukuman fisik dan memang terdapat strategi yang lain, orang tua hanya perlu mengembangkan segala kemungkinan,” katanya. Kotrla menambahkan, riset terlihat menyarankan kepada pemerintah dan pembuat kebijakan untuk fokus membahas masalah hukuman fisik sebagai usaha mengurangi kekerasan di masyarakat melalui orang tua. Terkait kekerasan pada anak, sejumlah organisasi termasuk American Academy of Pediatrics secara keras menentang hukuman fisik pada anak. Dari catatan lembaga itu, 35%-90% orang tua masih menerapkan hukuman fisik pada anak-anak mereka.

Pendidikan nonformal yang kini terdiri dari 10 asosiasi / forum, sedang mengembangkan sayapnya, berbenah diri, dan bersiap-siap untuk menyusun program konkrit untuk mendukung penyaluran dana block grant tahap ke-2 mulai akhir Februari 2007. Koordinasi dan sinkronisasi persepsi mulai dijalin menjadi satu suara. Sebuah proses yang penuh dengan pernak pernik diskusi dan dengar pendapat ini, dilaksanakan berturut-turut sejak bulan Januari hingga Februari lalu, dan dihadiri oleh para ketua asosiasi/forum pendidikan nonformal dari pusat dan daerah.

Pendidikan nonformal banyak disebut-sebut sebagai penopang yang terdekat dengan masyarakat. Pendidikan nonformal dipandang sebagai pendidikan masyarakat maka bentuk, tujuan, dan kegiatan pendidikan nonformal seharusnya menyentuh seluruh dimensi dari kehidupan masyarakat, sebagaimana konsep pendidikan sepanjang hayat yang menekankan bahwa seluruh aktivitas kehidupan diartikan sebagai aktivitas belajar atau pendidikan.
Sementara itu menurut data Dittentis tahun 2004, hingga kini ketersediaan ketenagaan pendidikan nonformal masih mengalami kekurangan sebanyak 521.168 orang dari jumlah idealnya sebanyak 744.790 orang. Jumlah ini masih bersifat tentative hingga sekarang, mengingat asumsi semakin tingginya angka putus sekolah maka semakin tinggilah kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan nonformal.

Ada banyak masalah yang kembali menyeruak ke permukaan. Selain kebutuhan jumlah tenaga pendidikan nonformal yang masih tinggi, rendahnya mutu para tenaga pendidiknya, dan akhirnya masalah kesejahteraan muncul sebagai hulu permasalahan yang terjadi dalam pendidikan nonformal. Atas semua ini, tak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak memandang pentingnya pendidikan nonformal bagi masyarakat.

Bunga Rampai Program Pendukung Pendidikan Nonformal
Beberapa program diluncurkan pemerintah melalui bentuk-bentuk kemitraan Direktorat PTK-PNF dengan seluruh asosiasi/forum pendidikan nonformal se-Indonesia. Program-program tersebut antara lain adalah peningkatan kualifikasi dengan bantuan beasiswa S1, peningkatan kompetensi untuk 250 orang assessor kompetensi di tingkat provinsi, 100 orang master trainers di tingkat provinsi, dan 20 orang pelatih di tingkat kabupaten/kota, serta pembentukan pusat magang, tim teaching, referensi tematik, Jambore PTK-PNF, pemilihan tim akademisi ditingkat kabupaten/kota dan provinsi, bantuan organisasi, capacity building (magang) ke luar negeri.

Seperti yang telah dipaparkan oleh Direktorat PTK-PNF di beberapa rapat koordinasi. Salah satunya di penghujung Januari lalu, dalam acara pelatihan capacity building yang diadakan oleh HIMPAUDI di Hotel Nusa Raya, Depok. Drs. Erman Syamsudin, Direktur PTK-PNF menghimbau kepada HIMPAUDI agar segera memilih para anggota tim akademisi dengan harapan nantinya tim akademisi inilah yang akan melakukan berbagai seleksi kurikulum dan berbagai proposal hingga tercipta beberapa standar bagi tubuh HIMPAUDI sendiri.

Dari beberapa orang calon akademisi pendidikan nonformal yang berdedikasi pun akan diberikan penghargaan berupa uang tunai perbulan sejumlah Rp1,5 juta s/d Rp2 juta. Dan program penghargaan lainnya melalui Subdit Harlindung PTK-PNF bagi para tenaga pendidik yang berprestasi dan berdedikasi di seluruh Indonesia. Mengenai bantuan untuk pengembangan organisasi, ada dukungan sebesar 20% dari dana Direktorat PTK-PNF di setiap levelnya. Dinyatakan pula, bahwa dana plafon yang tersedia untuk membiayai program-program sesuai dengan ajuan proposalnya, berkisar antara Rp60 juta s/d Rp200juta.

Melalui dana sebesar Rp1, 94miliar dengan indeks perorang mencapai Rp20juta s/d Rp25juta, Direktorat PTK-PNF merancang program capacity building (kegiatan magang) di luar negeri. Kontribusi pemda masing-masing juga dihitung sebagai perluasan peluang bagi meningkatnya jumlah tenaga pendidik PNF yang diberangkatkan ke 3 negara pilihan, yaitu Cina, Australia, dan Singapura. Menurut rencana, akan ada 3 gelombang keberangkatan yang terdiri dari 20 orang untuk setiap gelombang. Namun diupayakan untuk diperoleh kesempatan yang besar dan terbaik untuk kegiatan magang ini. Provider luar negeri dipilih berdasarkan ajuan dari masing-masing asosiasi pendidikan nonformal.

Terakhir, dikucurkannya dana block grant secara bertahap sejak tahun 2006 lalu, yang berlanjut hingga sekarang. Pada tahun 2007 ini, seluruh asosiasi/forum pendidikan nonformal telah dapat mengajukan program-program konkritnya mulai akhir Februari lalu.

Kesejahteraan Tenaga Pendidik jadi Hulu Masalah
Keberpihakan pemerintah didukung oleh pernyataan Direktur Pendidikan Luar Sekolah, Ace Suryadi, pada acara Lokakarya dan Rakernas HISPPI-PNF tanggal 26 s/d 28 Januari 2007 di hotel Grand Cempaka, Jakarta, menyatakan bahwa pendidikan nonformal memang berada diluar pekarangan, namun sangat berdekatan dengan masyarakat, dan berguna untuk menaikkan citra masyarakat serta membantu masyarakat dalam menjawab persoalan-persoalan akses terhadap dunia pendidikan.

Disamping berbagai dukungan yang mengalir, ada banyak masalah yang juga merangkak muncul dan tersampaikan pada beberapa acara rakor dan rakernas PTK-PNF di sepanjang Januari hingga pertengahan Februari lalu. Pada acara yang sama, salah satu peserta Rakernas menyatakan tentang sistem pencairan dana block grant yang dianggap tidak jelas dan tidak maksimalnya penggunaan dana Life Skill yang tersebar di seluruh asosiasi se-Indonesia. Disinyalir, dana Life Skill lebih banyak mengalir ke tangan para ahli di perguruan tinggi, padahal menurut mereka semestinya itu tidak terjadi dan dana dapat dimaksimalkan penggunaannya bagi peningkatan mutu tenaga pendidiknya.

Dalam tubuh PAUD pun ada beberapa kekhawatiran yang disampaikan peserta pelatihan Capacity Building, pada Januari lalu. Tidak adanya standarisasi pengelolaan PAUD dan kompetensi tenaga pendidiknya yang masih tak sesuai dengan kebutuhan PAUD itu sendiri. Banyaknya lulusan sarjana dari berbagai jurusan yang bekerja sebagai tenaga pendidik dalam PAUD, namun sesungguhnya kompetensi mereka sangat kurang dalam hal pengetahuan pendidikan untuk anak usia dini. PAUD dianggap seperti batu loncatan. Ini keadaan yang dipandang cukup mengkhawatirkan.

Pendidikan nonformal yang sangat berjenis-jenis (tak kurang dari 100 jenis pendidikan ketrampilan), dipandang masih sulit untuk dibuatkan standarisasi yang baku. Pada rakernas HISPPI, salah satu pengurus dari daerah palu menyampaikan usulannya bahwa hendaknya pihak Diknas juga mendukung dengan berperan sebagai mediator bagi penempatan kerja di luar negeri serta disusunnya model kurikulum untuk mencapai kualitas terbaik bagi para pendidiknya.
Lain halnya ketika melalui wawancara terpisah, kami temui Pak Mustofa, salah satu tutor keaksaraan di Kabupaten Pasir Putih, Sawangan, Depok. Seseorang yang telah menjadi tutor sejak honor tutor keaksaraan masih Rp75.000,- perbulannya. Dan kini ia menerima sebesar Rp140.000,- perbulan. Adanya rencana pemerintah untuk menaikkan honor tutor keaksaraan mencapai Rp350.000,- dengan tanggungan satu kelompok belajarnya harus mencapai 40 orang, ditanggapi Mustofa dengan gelengan kepala. Ucapnya, “Sebenarnya itu lebih berat. Kenaikan honor belum tentu bisa menjamin hasil belajarnya jadi lebih efektif.” Ia menuturkan bahwa sesungguhnya semua tugasnya sebagai tutor yang dijalani, selalu berawal dari nurani. “Adanya rasa kepedulian yang besar, akan membuat semuanya jadi lebih lancar. Tanpa itu, tidak akan bisa berjalan,” tegasnya.

Sedemikian besarnya nilai pengabdian yang diberikan kepada terlaksananya pendidikan nonformal, namun dukungan ini tak sama besar seperti dukungan dari Komisi 10 DPR. Irwan Prayitno memaparkan, “Sekarang ini kita memang sedang prioritaskan kepada guru karena guru ini memang secara total berjumlah 2,7 juta itu masih belum juga mendapatkan kesejahteraan. Sesungguhnya pendidikan nonformal memang belum jadi prioritas. Oleh karena itu kami akan coba masukkan dalam peraturan. Sehingga dengan demikian ada payung yang bisa dituangkan dalam bentuk kesejahteraan.”

Pada acara Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Program Peningkatan Mutu PTK-PNF yang diadakan pada tanggal 15 s/d 18 Februari lalu di Hotel grand Cempaka Jakarta, Drs. Erman Syamsudin menyampaikan permasalahan krusial secara garis besar. Ada 3 masalah yang perlu digarisbawahi. Pertama, payung hukum tentang pendidik dan tenaga kependidikan nonformal. Kedua, masalah sinkronisasi antara pusat dan daerah. Termasuk tentang bagaimana peranan DPRD memberikan fungsi ke daerah hingga pihak pemda akan tergerak untuk memberikan dukungan penuh terhadap pendidikan nonformal. Ketiga, mengenai jumlah sasaran yang terus bertambah setiap tahun. Tercatat bahwa pada tahun 2006 sasarannya sejumlah 42.355 orang, dan pada tahun 2007 bertambah menjadi sebanyak 53.781 orang. Namun dana anggaran yang tersedia tidak bertambah. Masih berada pada angka Rp178miliar.

Dikonfirmasi mengenai realisasi tindakan Komisi 10 DPR terhadap peningkatan mutu pendidikan nonformal, Irwan Prayitno dengan lugas menjawab, “Untuk peningkatan mutu, ya harus diberi kesejahteraan. Kalau tidak, itu tidak akan bisa jalan.”

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan (edisi Maret 2007) yang berkantor di Jakarta.

PENDIDIKAN KEAKSARAAN

Posted: Juni 1, 2010 in Uncategorized

Welcome

Posted: Mei 25, 2010 in Uncategorized

Pendidikan nonformal banyak disebut-sebut sebagai penopang yang terdekat dengan masyarakat. Pendidikan nonformal dipandang sebagai pendidikan masyarakat  maka bentuk, tujuan, dan kegiatan pendidikan nonformal seharusnya menyentuh seluruh dimensi dari kehidupan masyarakat, sebagaimana konsep pendidikan sepanjang hayat yang menekankan bahwa seluruh aktivitas kehidupan diartikan sebagai aktivitas belajar atau pendidikan.
Sementara itu menurut data Dittentis tahun 2004, hingga kini ketersediaan ketenagaan  pendidikan nonformal masih mengalami kekurangan sebanyak 521.168 orang dari jumlah idealnya sebanyak 744.790 orang. Jumlah ini masih bersifat tentative hingga sekarang, mengingat asumsi semakin tingginya angka putus sekolah maka semakin tinggilah kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan nonformal.

Ada banyak masalah yang kembali menyeruak ke permukaan. Selain kebutuhan jumlah tenaga pendidikan nonformal yang masih tinggi, rendahnya mutu para tenaga pendidiknya, dan akhirnya masalah kesejahteraan muncul sebagai hulu permasalahan yang terjadi dalam pendidikan nonformal.  Atas semua ini, tak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak memandang pentingnya pendidikan nonformal bagi masyarakat.

Oleh karena itu kita membutuhkan banyak masukan baik berupa tulisan maupun rekomendasi-rekomendasi dari rekan-rekan seperjuangan sebagai bahan pertimbangan demi memajukan pendidikan nonformal ke depan…